Senin, 02 Oktober 2017

Sejarah Viking Persib Club (VPC)


Viking Persib Club sudah ada sebelum organisasi dan kelompok suporter klub lain di indonesia mulai menjamur pada selesai 1990-an, kelompok suporter Persib dengan jumlah anggota resmi terbesar ini sudah mendeklarasikandiri pada 17 Juli 1993.

Pada dikala itu timbul gagasan dari Ayi Beutik untuk mempersatukan para Bobotoh Persib yang selalu setia menonton di tribun Selatan ke dalam sebuah organisasi yang solid. Lantas ia mengundang beberapa tokoh Bobotoh dari aneka macam tempat, yaitu Heru Joko, Dodi PesaÔ Rokhdian, Hendra Bule, dan Aris Primat dengan dihadiri oleh beberapa Pioner Viking Persib Club lainnya, yang hingga kini masih tetap aktif dalam kepengurusan Viking Persib Club. Mereka berembuk untuk menyatukan diri dalam sebuah wadah organisasi dan terbentuklah sebuah kelompok Viking Persib Club (VPC) atau biasa disebut Viking.

Pilihan Viking diambil dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami daerah Skandinavia di Eropa Utara. Suku bangsa tersebut dikenal dengan sifat yang keras, berani, gigih, solid, patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, serta senang menjelajah. Karakter dan semangat itulah yang mendasari pengadopsianÔ nama Viking kedalam nama sebuah kelompok yang telah dibentuk. Slogan "Persib Sang Penakluk" begitu lebih banyak didominasi terlihat pada salah satu atribut yang dipakai anggotanya. Viking dimasa ini masihlah sangat tradisional dan belum memperlihatkan sebagai sebuah organisasi yang utuh secara profesional.

Pada awalnya, jumlah anggota Viking hanya sekitar 50 orang mereka yakni sekumpulan fans fanatik Persib yang bisa dibilang beraliran keras. Jika ada wasit yang mereka rasakan bertindak tidak adil, mereka pribadi berteriak dan turun ke lapangan. Mereka tidak gentar meskipun dihalangi oleh pegawapemerintah keamanan sekalipun. Oleh alasannya itu tidak heran bila mereka sering bentrok dengan polisi atau tentara, bahkan hingga terlibat perkelahian. Ketika itu salah satu persyaratan untuk menjadi anggota VPC yakni harus berkelahi. Misalnya para calon anggota Viking sedang bertandang ke Jakarta untuk menonton pertandingan sepak bola. Maka sesampainya di stadion Lebak Bulus, calon anggota gres tersebut harus mencari alasan untuk berkelahi dengan suporter lawan. Bahkan kalau bisa hingga lawannya pingsan. Banyak anak muda yang tertarik, terutama dari fatwa garis keras, sehingga anggotanya terus berkembang pesat.

Berbeda dengan dikala dulu kini persyaratannya sudah berubah, dan tidak radikal menyerupai dulu karena banyak juga kaum wanita dan anak kecil yang masuk jadi anggota. Jika ingin menjadi anggota VPC, syaratnya harus pernah nonton dulu ke sangkar lawan.

Pada Periode tahun 1999-2004 Viking mengalami penambahan anggota yang cukup signifikan, bahkan karena seakan banyaknya anggota maka para pimpinan Viking pun merasa bahwa tribun Selatan sudah tak bisa lagi menampung jumlah anggota yang rutin menyaksikan pertandingan Persib secara pribadi di Siliwangi, balasannya tribun timur pun menjadi pilihan dan terhitung semenjak Liga Indonesia VI seakan penambahan anggota tersebut , Viking mulai Ô¨berpindah ke tribun Timur dan memperlihatkan keberadaan serta santunan dari tribun TimurÔ yang lebihnyaman dan kapasatitas tempat duduk lebih besar.

Periode ini pulalah, tepatnya medio 2002-2003, Viking mengalami sebuah momentum penting dikala Yudi Baduy sang sekretaris umum mulai sibuk dengan rutinitas dan pekerjaannya sehingga Viking membutuhkan darah segar untuk tetap menjaga dinamika roda organisasi, dan masuklah Budhi Bram, keterlibatannyabersama Viking dimulai dikala yang bersangkutan menggarap album Kompilasi yang pertama. Seiring waktu, balasannya Budhi Bram resmi menjabat sebagai sekretaris umum Viking yang baru.Pada masa inipulalah Viking yang tetap di pimpin oleh dwitunggal Herru Joko sang ketua umum dan Sang Panglima, Ayi Beutik mulai tumbuh sebagai organisasi yang sesungguhnya, seluruh potensi organisasi pun terus dioptimalkan untuk mendatangkan manfaat bagi Persib dan Viking sendiri. Viking dengan jumlah anggotanya yang mencapai ribuan orang mulaidilirik oleh aneka macam perusahaan dan menjalin beberapa kerjasama dalam event-event besar. Tercatat berbagaiperusahaan, mulai dari rokok, selular hingga clothing pernahmenjalin kerjasama dengan Viking Persib Club.lama kelamaan agresi Viking takhanya sekedar bersorak di stadion, namun aktivitasnya mulai menyentuh aneka macam aspek kehidupan, menyerupai bakti sosial, sunatan masal, kompetisi-kompetisi kreatif dll. Dimasa ini pulalah Viking mulai menjalin simpul-simpul signifikan dengan pihak-pihak yang strategis, menyerupai walikota Bandung dll.

Pada Periode 2005-2009 Dimasa ini Viking semakinmapan dan dewasa, bahkan sisi komersil pun mulai teroptimalkan secaraelegan. Lihat saja kelahiran Viking Persib fanshop yang bergerak dibisnis properti supporter, ataupun album digital dan bisnis RBT serta website resmi yang digarap oleh Viking, semakin memperlihatkan ke-profesionalan organisasi ini. Jangan lupakan pula kehadiran Persib magz yang fenomenal dan sempat mewarnai dunia media soporter ditanah air dan berganti nama menjadi majalah.

Tokoh Panglima Ayi Beutik

Bobotoh begitu terikat secara emosional, dan mereka mengikatkan diri kepada Persib dan juga kepada sesama pendukung Persib. Kata Panglima disini yakni sosok bapak/ibuÔ dalam keluarga, pengasuh bagi anak-anaknya, terutama anak kecil, sosok yang memimpin serta melindungi para anggota apabila terjadi sesuatu dilapangan.

Pria yang berjulukan asli Ayi Suparman ini merupakan salah seorang pendiri dan pimpinan tertinggi Viking Persib Club (VPC),  Ayi Beutik terkenal fanatik dan rela melaksanakan tindakan anarkis demi membela tim kesayangannya.

Ada orang yang bertanya mengapa nama Ayi Suparman diubah menjadi Ayi Beutik. Ternyata jawabannya sangat sederhana. Konon ketika ia masih kecil, ada bapak-bapak yang bertubuh tinggi besar. Ketika ia beranjak remaja tubuhnya menyerupai bapak-bapak tersebut sehingga dipanggil Beutik. Sejak dikala itulah orang lebih mengenalnya sebagai Ayi Beutik.

Dalam setiap pertandingan Persib, Ayi Beutik selalu berada di garda terdepan dalam memimpin para bobotoh untuk mendukung tim kesayangannya. Sosoknya pemberani dan sangat disegani baik oleh lawan maupun kawan. Kecintaannya terhadap persib tidak perlu diragukan lagi. Dia rela ditahan demi membela kelakuan anggotanya yang terkadang kelewat batas sehingga melaksanakan tindakan kriminal yang merugikan orang lain. Oleh alasannya itu ia mendapat julukan sebagai Panglima Viking oleh Bobotoh Persib.

Bapak para Bobotoh ini yang selama hidupnya belum pernah sekalipun membeli tiket untuk menonton setiap pertandingan sepakbola. Dia selalu punya caranya sendiri untuk bisa menonton, misalnya dengan cara memanjat tembok. Apapun dilakukannya demi sepak bola. Dalam mendukung timnya, ia selalu berpenampilan nyentrik termasuk model rambutnya menjiplak gaya Indian Mohawk. Ciri khas lainnya yakni teriakan-teriaknnya yang membuat suasana stadion menjadi semakin hidup.

Pria kelahiran 1968 yang memiliki hobi menonton sepak bola, musikdan memanjat tebing ini merupakan lulusan Jurusan Geodesi, Institut Teknologi Bandung (ITB). Sesuai denganbackgroundkeilmuannya, ia bekerja di sebuah perusahaan Konsultan Asing pada bab pemetaan. Oleh alasannya itu tidak heran bila ia sangat mengenal aneka macam daerah di Indonesia.

Ayi Beutik menikah dengan Nia Dasmawati, seorang guru SD yang sangat dicintainya pada usia 37 tahun. Pernikahan mereka membuahkan dua orang anak yang diberi nama Jayalah Persibku dan Usab Perning. Nama yang unik tersebut diberikan pada kedua anaknya sebagai bukti kecintaannya terhadap Persib.

Begitupun jabatan Ketua Umum yang disandang Heru Joko, yakni sebagai figure kharismatik yang memiliki fungsi politis keluar organisasi atau kelompok lain. Lain halnya dengan Yoedi Baduy yang menjabat sebagai Sekretaris Umum, ia mengelola dan mengkoordinir segala bentuk kegiatan secara administratif. Bisa dikatakan ketiganya yakni pemimpin atau leader Viking Persib Club, yang tentu saja ditopang oleh pentolan-pentolan Viking Persib Club yang lainnya, menyerupai Yana Ewok, AsepÔ•Cok, Yana Bool (Mr. Y), Dadan Gareng, Boseng, Odoy, Pesa dan Hendra Bule.

Bsnis yang Dikelola Viking Persib Club (VPC)

Sejak Ayi Beutik menjadi Panglima Viking dan Heru Djoko menjabat sebagai Ketua Umum Viking, keberadaan VPC semakin solid. Keduanya kompak dalam membangun suporter Persib yang berpengaruh dan disegani. Mereka berdua memiliki banyak andil dan jasanya dalam membesarkan Viking. Mereka bisa saling mengisi satu sama lainnya. Disamping nama kedua dedengkot Viking tersebut, ada juga nama lain yang turut berjasa, menyerupai Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule dan Aris Primat.Heru Djoko merupakan Ketua Viking yang cerdas dan cukup jeli dalam melihat peluang bisnis. Dia mengajarkan kepada para bobotoh bagaimana cara berbisnis untuk Viking. Tidak sedikit pula para pengusaha yang tertarik menjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Namun Heru dan Ayi tidak serta merta pribadi menyetujuinya. Mereka berdua benar-benar selektif dalam menjaring pengusaha yang akan menjadi mitra bisnisnya.Salah satu cara yang dilakukan Heru dan pengurus lainnya dalam mencari peluang bisnis yang sempurna yakni dengan melaksanakan riset kecil-kecilan. Mereka menyebar angket kepada para bobotoh yang isinya berupa pertanyaan seputar kebutuhan para anggotanya. Hasilnya berupa sekumpulan daftar kebutuhan bobotoh menyerupai kaos anggota, kemeja, syal, topi, pin dan sebagainya. Hal ini tentu membuka peluang usaha yang terperinci dengan market yang terperinci pula. Adanya kegiatan ini bisnisini bisa mengakibatkan masuknya income buat pribadi bobotoh yang ikut menjalankan bisnis ini maupun buat organisasi VPC itu sendiri.

Secara umum terdapat tiga jenis usaha yang dikala ini dikembangkan oleh VPC, yaitu :

1. Viking Original Fanshop

Konsepnya persis menyerupai cloting pada umumnya, namun perbedaanya terdapat pada antribut-atributnya yang sangat kental berbau Persib. Barang yang dijual menyerupai marchandise ataupun souvenir Viking dan Persib yang resmi dekelola oleh VPC.Usaha dibidang ini terletak di Jalan Banda, tidak jauh dari Stadion Siliwangi Bandung dan Wisma Darma Bakti, tempat menginap para emain Persib. Produk yangdijual tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan para anggota Viking, namun juga terbuka untuk umum.

2. Viking Recorder

Kota Bandung sudah dikenal luas memiliki banyak budayawan, seniman dan musisiternama. VPC merasa tertantang untuk menciptakan kreativitas gres yaitu pembuatan CD Viking kompilasi persib. Dalam CD ini terdapat lagu-lagu yang sengaja dibuat oleh para musisi kota Bandung sebagai wujud kecintaannya terhadap Persib.Pada 2002 dan 2004, VPC telah melahirkan album kompilasi yang berisi lagu-lagu bertema Persib. Lagu-lagu tersebut dimainkan oleh penyanyi dan Band ternama asalKota Bandung, menyerupai Pas Band, Mocca, Serius, Kang Ibing, dan Doel Sumbang. Kontribusi mereka sangat berarti bagi kemajuan VPC dan Persib Maung Bandung.Berdasarkan data penjualan, ternyata album Viking Kompilasi 1 sudah terjual sekitar 30.000 kopi. Bahkan konon kabarnya masih dirilis ulang dengan kemasan baru, sesuai undangan pasar. Sedangkan album Viking Kompilasi 2, angka penjualannyamencapai 20.000 kopi. Berikutnya direncanakan Viking akan membuat album ketiga yang lebih baik dari album-album sebelumnya.

3. Suporter Tour Company

Usaha ini masuk dalam sektor jasa, yaitu melayani bagi siapa saja yang bermaksud menyaksikan laga Persib diluar kota dengan nyaman dan aman. VPC menyediakan pelayanan pembelian tiket, sarana fasilitas dan transportasi yang diberi nama Viking Suporter Tour Company. Jenis usaha ini hampir sama dengan bisnis Tour dan Travel yang dikelola oleh sarjana lulusan perguruan perhotelan.Anggota Viking yang ikut dalam rombongan Suporter Tour Company, selain menonton laga Persib, juga diajak jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata yang terdapat di daerah tersebut.


Sumber http://tribunbobotoh.blogspot.co.id

Sejarah The Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu)

The Bomber atau Bobotoh Maung Bandung Bersatu mulai dirintis semenjak 1997 tak kurang dari dua lusin perkumpulan Bobotoh telah menyatakan sikap untuk berhubungan dan balasannya mendeklarasikan Bomber di Hotel Santika Bandung pada tanggal 3 agustus 2001.

Dalam berdemokrasi Bomber membebaskan perkumpulan yang berada dalam pondasi Bomber untuk tetap memakai atribut kebesaran mereka masing-masing namun jikalau sudah berada dilapangan merekapun sepakat hanya akan mengibarkan bendera Bomber. Dalam perjalananya Bomber sudah mengalami empat kali pergantian ketua umum yaitu Asep S Abdul, Arip Maulana Yusuf, Arief Maulana DJ, dan pada tahun 2007 kembali diketuai oleh Asep S Abdul sampai sekarang. Pada tahun 2006 Bomber sempat meleburkan diri bersama Viking Persib Club dan menjadi distrik Viking terbesar dengan nama Viking The Bomberman namun hanya jelang satu tahun pada tahun 2007 Bomber kembali mencoba berdikari dan menjadi organisasi yang independent dengan nama The Bomber. The Bomber mempunyai tujuan untuk mendukung Persib Bandung dalam semua lingkup kegiatannya, mendukung Timnas Indonesia dalam kancah persepakbolaan Nasional dan Internasional, Bomber juga berkomitmen untuk membangun supporter sepakbola yang kritis, kreatif, aktraktif, tertib, santun, cerdas dan bertanggung jawab demi Persib. Dalam kepengurusan tingkat tertinggi ialah Mabes Pusat yang membawahi kepengurusan Mabes Kota/Kab. untuk tingkat Kota/Kab, Rayon untuk tingkat Kecamatan, dan Ranting untuk tingkat kelurahan yang berlaku diseluruh kawasan di Indonesia dan diawasi eksklusif oleh Dewan pembina, Dewan penasehat, dan Dewan pelindung Bomber.

Biodata
Nama : The Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu) atau Bomber.
Berdiri : 3 Agustus 2001
Ketua Umum : Asep S Abdul (masa bhakti 2010-2015)
Jumlah Anggota : 27.000 orang
Motto : "Menjadi Bobotoh Sntun dan Cerdas"
Lambang : Tengkorak Mung Bertopi Tanduk Kerucut
Tribun : Selatan

Legalitas Bomber
1. AKTA NOTARIS / PPTA : Akta pendirian Bomber : No.02 Tgl 07 Oktober 2010
2. SURAT KETERANGAN TERDAFTAR : Badan kesatuan bangsa, dukungan dan pemberdayaan masyarakat Kota Bandung : No : 142 / BKPPM / 20103. Berdasarkan UUD No. 40 Tahun 1999.

Sumber http://tribunbobotoh.blogspot.co.id

Sejarah The Jakmania


The Jakmania yaitu kelompok pendukung klub sepakbola Persija Jakarta yang berdiri semenjak Ligina IV, tepatnya 19 Desember 1997.

Ide ini muncul dari Diza Rasyid Ali, manajer Persija waktu itu. Ide ini mendapat sumbangan penuh dari Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Sebagai pembina Persija, memang Bang Yos (sapaan akrabnya) sangat menyukai sepakbola. Ia ingin sekali membangkitkan kembali sepakbola Jakarta yang telah lama hilang baik itu tim maupun pendukung atau suporter.

Anggota & Kepengurusan 

Pada awalnya, anggota The Jakmania hanya sekitar 100 orang, dengan pengurus sebanyak 40 orang. Ketika dibentuk, dipilihlah figur yang dikenal di mata masyarakat. Gugun Gondrong merupakan sosok paling ideal disaat itu. Meski dari kalangan selebritis, Gugun tidak ingin diberlakukan berlebihan. Ia ingin merasa sama dengan yang lain.

Pengurus The Jakmania waktu itu balasannya membuat lambang sebuah tangan dengan jari berbentuk karakter J. Ide ini berasal dari Edi Supatmo, yang waktu itu menjadi Humas Persija. Hingga sekarang, lambang itu masih dipertahankan dan selalu diperagakan sebagai simbol jati diri Jakmania.

Seiring dengan habisnya masa pengurusan, Gugun digantikan Ir. T. Ferry Indrasjarief. Ia lebih dekat disapa Bung Ferry. Masa peran Bung Ferry yaitu periode 1999-2001 dan kembali dipercaya untuk memimpin The Jakmania periode 2001-2003, 2003-2005. Lelaki tinggi, ganteng dan sarjana lulusan ITI Serpong inilah yang memimpin The Jakmania hingga 3 periode.

Dibawah kepemimpinan Bung Ferry yang juga pernah menjadi anggota suporter Commandos Pelita Jaya, The Jakmania terus menggeliat. Organisasi The Jakmania ditata dengan matang. Maklum, Bung Ferry memang di besarkan oleh acara organisasi. Awalnya, sangat sulit mengajak warga Jakarta untuk mau bergabung.

Beruntung, pengurus menemukan momentum jitu. Saat tim nasional Indonesia berlaga pada Pra Piala Asia, mereka mengembangkan formulir di luar stadion. Dengan makin banyaknya anggota yang mendaftar sekitar 7200 anggota, dibentuklah Kordinator Wilayah (Korwil).

Dan hingga pendaftaran terakhir dikala ini terdapat lebih dari 30.000 anggota dari 50 Korwil.Setelah diadakan Pemilihan Umum Raya 2005, untuk memilih Ketua Umum yang baru, balasannya terpilihlah Ketua Umum Baru periode 2005-2007 yaitu Sdr. Hanandiyo Ismayani atau yang mampu dipanggil dengan Bung Danang.

Markas dan sekretariat The Jakmania berada di Stadion Menteng. Setiap Selasa dan Jumat merupakan rutinitas The Jakmania baik itu pengurus maupun anggota untuk melaksanakan acara kumpul bersama membahas perkembangan The Jakmania serta laporan-laporan dari setiap bidang kepengurusan.Tidak lupa juga melaksanakan pendaftaran bagi anggota gres dalam rutinitas tersebut.

Sumber http://tribunbobotoh.blogspot.co.id

Pertandingan Tandang Yang Menjadi Budaya

Pertandingan Tandang yang Menjadi Budaya

Jarak tidak pernah menjadi kendala bagi penggemar sepakbola. Pertandingan tandang menyerupai menjadi ritus bagi mereka sebagai ajang pembuktian soal siapa yang paling setia. Ritus tersebut dikemas secara khusus dengan nama “away day”.

Bagi sejumlah negara dan benua, pertandingan tandang menjadi satu hal yang wajib diikuti. Di Inggris misalnya, di mana suporter lawan hampir selalu hadir di semua pertandingan. Pendukung Liverpool yang berada di barat laut Inggris, biasa tandang ke Portsmouth yang terletak di ujung selatan Inggris. Pertandingan tandang menyerupai menjadi rutinitas dan budaya bagi penggemar sepakbola di Inggris.Ini juga diakomodasi oleh Federasi Sepakbola Inggris yang berhubungan dengan pihak kepolisian untuk “mengamankan” suporter lawan.

Salah satunya dengan sistem bubble match yang diterapkan dalam pertandingan yang diprediksi menjadikan goresan antar dua suporter. Selain itu, kesebelasan sangkar pun selalu mengalokasikan kawasan khusus di tribun untuk suporter lawan.

Di Inggris terdapat penghargaan “tuan rumah terbaik” yang dipilih lewat sistem voting setiap tahunnya. Dalam voting, suporter tandang menyampaikan pendapatnya soal kesebelasan atau stadion mana yang paling baik dalam menjamu tamu.

Bisa dibilang, penggemar yang tinggal di dataran Eropa amat beruntung. Mereka tak perlu pusing bagaimana caranya mencapai stadion di ujung barat Eropa sampai di ujung timur Eropa. Bahkan, untuk kesebelasan Inggris yang terpisah dari dataran Eropa sekalipun.

Penggemar FC Porto yang terletak di ujung barat Eropa, memiliki banyak pilihan moda transportasi untuk mencapai Moskow yang terletak di ujung timur. Meskipun berjarak lebih dari 4 ribu kilometer, tapi mereka masih mampu mencapainya lewat jalan darat, yang ditempuh kira-kira 43 jam. Kalau dianggap terlalu lama, penggemar mampu lewat jalur udara dengan durasi waktu sekitar enam jam.

Dengan cara ini tandang ke manapun bukan lagi sebuah kemustahilan. Jangankan pertandingan tandang di liga, pertandingan tandang antar negara pun biasa mereka lakoni.

Ini tentu saja tidak lepas dari infrastruktur transportasi di Eropa, utamanya sistem transportasi publik. Untuk kereta api, sistem tersebut dijalankan oleh Eurail. Perusahaan tersebut menghubungkan sistem transportasi di tiap negara di Eropa dan mengoneksikannya sehingga menjadi terhubung satu sama lain.Di situsnya, Eurail menyampaikan harga 454 euro untuk perjalanan yang mencakup 28 negara di Eropa dengan durasi lima sampai 10 hari. Angka tersebut relatif mampu dijangkau oleh masyarakat Eropa jikalau melihat standar biaya hidup di Eropa.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Seperti yang kita ketahui, infrastruktur transportasi di Indonesia tidak mampu dibilang istimewa. Pilihan jalan dari satu kota ke kota lain, umumnya terbatas dan hanya mengandalkan jalan nasional. Untuk urusan transportasi, menyerupai kereta api memang meningkat setiap tahunnya, tapi tetap tidak menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. Bahkan, kereta api cuma ada di Jawa dan Sumatera.

Pilihan lewat jalur darat mampu jadi malah mendatangkan bencana. Kaca dilempari kerikil oleh pendukung lawan, sampai pencegatan di jalan menjadi risiko yang mesti ditanggung oleh pendukung sepakbola di Indonesia.

Untuk jalur udara pun tidak begitu memadai alasannya yaitu hanya mencakup kota-kota besar. Amat jarang, misalnya, penerbangan Bandung-Yogyakarta atau Bandung-Makassar. Penggemar harus menuju kota yang lebih besar, yang menjadi penghubung antar kota di Indonesia (baca: Jakarta).

Akses perjalanan darat pun kerap menemui hambatan. Kontur alam yang tidak rata, membuat jalanan berkelok-kelok,yang tentu saja membuang waktu di perjalanan. Salah satu contohnya yaitu perjalanan bobotoh Persib ketika akan menyaksikan finaldi Palembang. Dengan jarak yang “hanya” 743 kilometer, ditempuh dalam waktu 24 jam. Padahal, jikalau kendaraan dipacu dengan rata-rata 50 kilometer per jam, jarak 700 kilometer mampu ditempuh dalam waktu 15 jam saja.

Tentu perhitungan tersebut mengecualikan waktu yang dihabiskan untuk menungguferri di Pelabuhan Merak, sampai memperlambat kendaraan alasannya yaitu jalanan sempit yang berbatasan dengan jurang.

Pembangunan jalan bebas hambatan dengan bentuk jalan yang lurus, bahwasanya mampu mengurangi waktu perjalanan. Perjalanan Bandung-Merak dengan jarak 258 kilometer, sejatinya mampu ditempuh dengan empat jam saja. Dari perhitungan tersebut,semestinya Bandung-Palembang mampu ditempuh dalam waktu 12 jam.Di luar faktor goresan dengan suporter lawan, agaknya masih sulit bagi penggemar sepakbola di Indonesia untuk mendukung kesebelasannya ketika bermain tandang, kecuali yang masih di sekitar Pulau Jawa. Sulitnya transportasi, membuat biaya perjalanan membengkak.

Jika The Jak Mania ingin mendukung Persija Jakarta di Jayapura, mereka setidaknya memerlukan biaya 2 juta rupiah hanya untuk tiket keberangkatan menggunakan pesawat udara. Belum lagi untuk biaya transportasi dari Bandara Sentani sampai Stadion Mandala Jayapura. Setidaknya, The Jak mesti mengeluarkan biaya lima juta rupiah untuk mampu bertandang ke Jayapura.Anehnya, biaya ini hampir sama jikalau pendukung Bali United akan bertandang ke Bangkok menghadapi kompetisi Asia. Biaya perjalanan Bali-Bangkok dibanderol 1,4 juta rupiah, sedangkan Bangkok-Bali dibanderol 2,1 juta rupiah.Mungkinkah pertandingan tandang menjadi budaya di Indonesia? Hmmm.. Agaknya masih membutuhkan waktu yang lama.

Sumber: Fanditfooball.com

Sumber http://tribunbobotoh.blogspot.co.id

Budaya Away Suporter Indonesia (Mania Culture)

Seperti yang kita ketahui, infrastruktur transportasi di Indonesia tidak bisadibilang istimewa. Pilihan jalan dari satu kota ke kota lain, umumnya terbatas dan hanya mengandalkan jalan nasional. Untuk urusan transportasi, menyerupai kereta api memang meningkat setiap tahunnya, tapi tetap tidak menjangkau seluruh wilayah di Indonesia, Tetapi cuma ada di Jawa dan Sumatera.

Pilihan lewat jalur darat mampu jadi malah mendatangkan bencana. Kaca dilempari kerikil oleh pendukung lawan, hingga pencegatan di jalan menjadi risiko yang mesti ditanggung oleh pendukung sepakbola di Indonesia. Untuk jalur udara pun tidak begitu memadai alasannya yaitu hanya mencakup kota-kota besar. Amat jarang, misalnya, penerbangan Bandung-Yogyakarta atau Bandung-Makassar. Penggemar harus menuju kota yang lebih besar, yang menjadi penghubung antar kota di Indonesia.

Akses perjalanan darat pun kerap menemui hambatan. Kontur alam yang tidak rata, membuat jalanan berkelok-kelok,yang tentu saja membuang waktu di perjalanan.

Salah satu contohnya yaitu perjalanan Bobotoh suporter Persib ketika akan menyaksikan selesai di Palembang. Dengan jarak yang “hanya” 743 kilometer, ditempuh dalam waktu 24 jam. Padahal, kalau kendaraan dipacu dengan rata-rata 50 kilometer per jam, jarak 700 kilometer mampu ditempuh dalam waktu 15 jam saja.

Tentu perhitungan tersebut mengecualikan waktu yang dihabiskan untuk menungguferri di Pelabuhan Merak, hingga memperlambat kendaraan alasannya yaitu jalanan sempit yang berbatasan dengan jurang. Pembangunan jalan bebas hambatan dengan bentuk jalan yang lurus, bergotong-royong mampu mengurangi waktu perjalanan. Perjalanan Bandung-Merak dengan jarak 258 kilometer, sejatinya mampu ditempuh dengan empatjam saja. Dari perhitungan tersebut,semestinya Bandung-Palembang mampu ditempuh dalam waktu 12 jam.

Di luar faktor ukiran dengan suporter lawan, agaknya masih sulit bagi penggemar sepakbola di Indonesia untuk mendukung kesebelasannya ketika bermain tandang, kecuali yang masih di sekitar Pulau Jawa. Sulitnya transportasi, membuat biaya perjalanan membengkak.

Jika dulu di masa Perserikatan pendukung klub Persebaya berbondong bondong tour ke Jakarta dengan sangat terorgansir, alasannya yaitu dulu memang belum ada suporter yang melaksanakan tour terorganisir menyerupai Bonek atau pendukung klub Persebaya, beda hal nya dengan Bobotoh di masa Perserikatan, kalau Bobotoh dulu menyaksikan Final menuju GBK mereka datang dari banyak sekali tempat di Jawa Barat, dan tanpa ada resiko atau ukiran dari suporter rival, atau tidak ada kaitannya dengan suporter lainnya, alasannya yaitu memang dulu belum ada organisasi atau kelompok suporter yang kini sekarang mulai muncul di masa Liga Indonesia, berbeda di ketika dulu kini budaya gres muncul dari sepakbola Indonesia yaitu Bobotoh/Viking, mereka mampu di bilang yaitu Budaya gres penggerak di sepakbola indonesia dengan tour menyebrangi pulau dengan penuh resiko dan bahaya dari suporter lawan.

Saat tabrak selesai antara Persib vs Persipura di Stadion Jakabaring, Palembang. Ribuan Bobotoh yang diangkut atau berangkat  kurang lebih hampir 100 bus, beberapa kloter pesawat dan ratusan kendaraan beroda empat pribadi, yang akan menuju palembang. Bahkan masih banyak bobotoh yang belum terangkut alasannya yaitu sulit menerima bus, dan juga tiket pesawat yang sudah Fully Boked. Namun, kondisi sebaliknya malah terjadi jauh diluar kondisi bobotoh yang tak ada sama sekali kaitannya dengan final. The Jakmania, yakni pendukung Persija Jakarta yang tidak masuk delapan besar, di ketika perjalanan di tol kota Jakarta mereka sudah berniat melempari bus suporter Persib dengan batu. Aksi mereka bukan tanpa alasan alasannya yaitu The Jakmania yaitu rival Bobotoh.

Karena inilah Culture Mania yang di pakai suporter indonesia, ada sedikit perbedaan bahkan beda dengan gaya suporter luar negeri, pola Ultras, Casuals dan lainnya namun ada unsur ide dari suporter luar negeri. Kembali ke dongeng tour di ketika perjalanan Bobotoh, Pendukung Persija Jakarta The Jakmania melempari bus bobotoh dari luar jalur tol, serta ada juga yang melempari dari atas jembatan tol.

Bobotoh sempat turun untuk membalas lemparan, namun para anak muda itu lari terbirit-birit bahkan sebelum benar-benar dikejar. Kejadian itu sontak menggegerkan jagat maya. Hashtag ‪#‎lemparlalukabur‬ pribadi menggema dari cuitan para bobotoh. Tak hanya kali itu saja, agresi tersebut kembali terulang hingga ketika bobotoh pulang dan hingga di pelabuhan Bakauhuni. The Jakmania kembali melempari bobotoh dengan kerikil besar. Suasana sempat mencekam ketika bobotoh turun untuk mengejar para pendukung garis keras Persija itu.

Seperti biasa, agresi kembali diperlihatkan oleh The Jakmania.
Mereka kabur terbirit-birit, Jakmania kembali melempari bus bobotoh Persib, ketika berada di jalur tol dalam kota Jakarta. Beberapa bus hancur oleh agresi tersebut. Belum terperinci berapa jumlah korban dari agresi sepihak tersebut. Namun bobotoh mengalami luka parah di kepala.

Tapi itulah budaya suporter indonesia dengan Culture Mania, Rasa fanatisme yang berlebihan terkadang berdampak negatif.
Bahkan Frenz Beckenbauer kaget melihat video kerusuhan suporter indonesia. Dia mengatakan bahwa suporter indinesia yaitu salah satu negara dengan suporter paling loyal. Dan itu di buktikan dari kepadatan rata rata tinggi stadion di indonesia mampu mencapai 96% dan salah satu suporter terbesar tersebut diantara lain yaitu Bobotoh, The Jakmania, Aremania, Bonek, Pasoepati, Singamania, Persipuramania, The Maczman.





Sumber http://tribunbobotoh.blogspot.co.id

Daftar Juara Perserikatan dan Galatama

Daftar Juara Perserikatan dan Galatama

Juara Perserikatan (1931-1994)
1931: VIJ (Jakarta)
1932: PSIM (Yogyakarta)
1933: VIJ (Jakarta)
1934: VIJ (Jakarta)
1935: Persis (Solo)
1936: Persis (Solo)
1937: Persib (Bandung)
1938: VIJ (Jakarta)
1939: Persis (Solo)
1940: Persis (Solo)
1941: Persis (Solo)
1942: Persis (Solo)
1943: Persis (Solo)
1951: Persibaya (Surabaya)
1952: Persibaya (Surabaya)
1954: Persija (Jakarta)
1957: PSM (Makassar)
1959: PSM (Makassar)
1961: Persib (Bandung)
1964: Persija (Jakarta)
1964/1965: PSM (Makassar)
1965/1966: PSM (Makassar)
1966/1967: PSMS (Medan)
1969: PSMS (Medan)
1971: PSMS (Medan)
1973: Persija (Jakarta)
1975: Persija (Jakarta) dan (PSMS (Medan)
1978: Persebaya (Surabaya)
1978/1979: Persija (Jakarta Pusat)
1980: Persiraja (Banda aceh)
1983: PSMS (Medan)
1985: PSMS (Medan)
1986: Persib (Bandung)
1986/1987: PSIS (Semarang)
1987/1988: Persebaya (Surabaya)
1989/1990: Persib (Bandung)
1991/1992: PSM (Ujungpandang)
1993/1994: Persib (Bandung)

Catatan:
*) Persibaya (Persatuan Sepak bola Indonesia Surabaya) berganti nama menjadi Persebaya (Persatuan Sepak bola Surabaya). Nama gres tersebut mulai dipakai pada Kejurnas PSSI 1959.
*) Sejak 1976, Persija merupakan perserikatannya kota Jakarta Pusat.
*) Kota Ujungpandang mulai dipakai pada Kejurnas PSSI 1971. Pada tahun 1999, kota Ujungpandang berganti lagi menjadi kota Makassar melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 86 tahun 1999 wacana Perubahan Nama Kota Ujungpandang Menjadi Kota Makassar dalam Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Juara Galatama (179-1994)
979-1980: Warna Agung (Jakarta)
1980-1982: NIAC Mitra (Surabaya)
1982-1983: NIAC Mitra (Surabaya)
1983-1984: Yanita Utama (Bogor)
1984: Yanita Utama (Bogor)
1985: Kramayudha Tiga Berlian (Palembang)
1986-1987: Kramayudha Tiga Berlian (Palembang)
1987-1988: NIAC Mitra (Surabaya)
1988-1989: Pelita Jaya (Jakarta)
1990: Pelita Jaya (Jakarta)
1990-1992: Arseto (Solo)
1992-1993: Arema (Malang)
1993-1994: Pelita Jaya (Jakarta)

Divisi I
1980 (Edisi 0): Angkasa (Solo)
1983 (Edisi 1): Semen Padang (Padang)
1990 (Edisi 2): Assyabaab (Surabaya)

Catatan:
*) “Divisi I” Galatama 1980 ditulis sebagai Edisi “0” alasannya ialah dikala merupakan “Seleksi Anggota Galatama”.
*) Divisi I periode berikut (1983-1993) selalu tidak digelar alasannya ialah dibatalkan. Alasannya, klub-klub di divisi utama dan di divisi I ada yang membubarkan diri sehingga selalu kurang peserta.
*) Divisi I Galatama 1983 ditulis divisi II.

Sumber: Wikipedia, Novanmediaresearch dan aneka macam sumber lainnya.

Sumber http://tribunbobotoh.blogspot.co.id

Sejarah Bobotoh



(Foto: Bobotoh dikala berada di Stadion Senayan, Jakarta)

Bobotoh adalah sebutan untuk pendukung klub sepakbola Persib Bandung, nama ini berasal dari bahasa Sunda, artinya "orang orang yang mendorong atau membangun semangat bagi orang lain".  Secara global Bobotoh terbagi dalam beberapa kelompok diantaranya, Viking Persib Club (VPC), The Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), La Curva Pasundan (LCP), Flowers City Casuals (FCC). Bobotoh tidak mengenal usia muda atau tua, mereka yang bersorak atau mendukung Persib di sebut Bobotoh.

Sejak pertama klub sepakbola Persib Bandung berdiri tahun 1933. Pendukung Persib sudah mulai muncul dan menerangkan keberadaan untuk mendukung klub sepakbola kebangaan kota Bandung tersebut,  Bala Kurawa ialah sebutan pendukung Persib selain Bobotoh pada jaman tersebut, sejarah tercatat pada media masa khusus Olahraga, yang di terbitkan oleh Otto Iskadar Dinata tahun 1937, pendukung Persib sudah berada dan hadir untuk menunjukkan sumbangan dan semangatnya ketika Persib Bandung bertanding di Lapangan Tegalega dan Ciroyom, Bandung. Tidak hanya dalam sabung home, tercatat juga pada tahun tersebut, yaitu pendukung Persib sudah menerangkan loyalitasnya untuk menyaksikan pribadi ketika Persib Bandung bertandang melawan Persis Solo yang digelar di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah.

Seiring loyalitas, fanatisme dan perkembangan baik prestasi klub, peran pendukung Persib mulai muncul dan selalu menunjukkan perubahan positif bagi klub tersebut, begitupun dengan nama julukan Bobotoh yang mulai populer di tamat tahun 80'an, ketika itulah banyak tokoh-tokoh atau artis yang selalu melontarkan "Ngabobotohan Persib ka Senayan (Stadion Gelora Bung Karno)" dari nama tersebut pendukung Persib mempunyai julukan, begitupun dengan media cetak lokal atau nasional yang mulai mempopulerkan nama Bobotoh sebagai sebutan untuk pendukung klub Persib Bandung yang terkenal fanatismenya.

Modern Era
Bobotoh ialah sub-kultur kelompok-kelompok pendukung Persib. Sejak pertama Liga Indonesia 1994/1995 berubah dari era Perserikatan menjadi Liga Indonesia, Bobotoh mulai banyak membentuk suatu perkumpulan atau komunitas, antara lain Balad Persib, ABCD, Stone Lovers, Jurig Persib, Viking Persib Club, Dll. Jika dahulu Bobotoh datang ke stadion tanpa perbedaan atribut dan satu Bobotoh, sekarang banyak perkelompokan yang hadir berada dalam area tribun stadion. Jika secaea global yang di maksud Bobotoh adalah, misalnya : anggota Viking ialah Bobotoh tetapi Bobotoh (individual) belum tentu anggota Viking.

Viking Persib Club (VPC)
VPC atau Viking sudah ada sebelum organisasi atau kelompok suporter klub lain di indonesia menjamur di tamat tahun 90'an, Kelompok pendukung resmi Persib terbesar ini sudah mendeklarasika diri pada 17 Juli 1933.

The Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu)
Bomber Persib ialah kelompok pendukung Persib yang berada di tribun selatan, semenjak tahun 1997 Bomber mulai di rintis dari perkumpulan kecil pendukung Persib dan ikut berafiliasi, kemudian mendeklarasikan Bomber di Hotel Santika Bandung, 03 Agustus 2001.

Flowers City Casuals (FCC)
FCC ialah kelompok garis keras di Indonesia, berawal dari tiga orang pendukung Persib yang sangat menyukai budaya inggris dan klub lokal yang mereka suka, pada tahun 2005 mereka bentuk kelompok FCC dengan penampilan Casual dan berpakaian brand terkenal eropa, kelompok ini tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.

La Curva Pasundan (LCP)
LCP ialah kelompok suporter garis keras di Indonesia, mereka selalu berpenampilan berwarna hitam, membawa giant flag besar dan nyanyian yang menggema selama 45x2 menit, awal kemunculan LCP ialah sekitar tahun 2012/2013

Tokoh Inspirations
Bernama asli Ayi Suparman ialah seorang pendiri dan petinggi Viking Persib Club, yang di angkat oleh banyak kalangan Bobotoh sebagai Panglima Viking Persib Club, tidak heran memang sosoknya yang begitu di segani oleh Bobotoh ataupun suporter rival, Ayi Beutik rela melaksanakan apa saja bahkan tindakan anarkis dilakukan demi sebuah harga diri klub kebangaannya. Selama hidupnya Ayi Beutik belum pernah membeli tiket dalam pertandingan sepkabola, selalu ada cara yang dilakukannya, misalnya memanjat tembok.

Pria kelahiran 1968 yang memiliki hobi menonton sepakbola, musik dan memanjat tebing dan merupakan  lulusan Jurusan Geodesi, Institut Teknologi Bandung (ITB), sesuai dengan background keilmuannya, ia bekerja di sebuah perusahaan Konsultan Asing sebagai bab pemetaan. Oleh karena itu tidak heran jikalau Ayi Beutik sangat mengenal tempat di Indonesia.

Ayi Beutik seorang Bobotoh yang sangat mencintai Persib Bandung, ia rela ditahan untuk membela perlakuan anggotanya yang melebihi batas sehingga terjadi tindakan kriminal yang merugikan orang lain, oleh karena itulah ia mendapat julukan sebagai Panglima dalam arti, sebagai bapak dari para Bobotoh. Berada dalam stadion Ayi Beutik sangat kuat bagi kalangan Bobotoh selalu ada teriakan teriakan yang membuat suasana stadion semakin hidup.

Tradition
Bobotoh ialah culture yang tak pernah mati dari generasi ke generasi, dan sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat Jawa Barat khususnya Kota Bandung, utuk mendukung Persib Bandung. Sejak jaman dahulu Bobtoh ialah suporter yang mewariskan tradisi turun temurun dari oran renta ke anak cucunya, tidak heran bahkan seorang (tokoh bobotoh) Alm. Ayi Beutik yaitu Panglima kelompok Viking Persib Club (VPC) menunjukkan kedua nama anaknya yang khas Persib yaitu Jayalah Persibku dan Usab Perning, dengan maksud sebagai doa untuk Persib yang memang ketika waktu Jayalah Persibku lahir prestasi Persib hampir terdegradasi. Tidak hanya itu mereka juga dikenal nekat, mereka rela menjual barang dan meninggalkan pekerjaannya demi sebuah klub kebanggaanya, dan memerikan dukungannya dikala Persib bertanding di home atau away , apapun mereka lalukan baik itu berangkat  menggunakan kendaraan roda dua atau empat, kereta api, bahkan pesawat terbang dan kapal laut. Masih banyak lagi  kebiasaan yang di lakukan dari kelompok-kelompok pendukung Persib lainnya.

Bobotoh in Action (Protes, Kerusuhan, Awaydays, Terror, Fightin)
18 Januari 2006, Pada sabung home dua pertandingan kalah berturut turut, membuat Persib diguncang people power. Sebelumnya di sabung perdana sudah beredar bahaya dari Bobotoh dan kekalahan kedua kesudahannya secara spontan membuat agresi demo. Ribuan Bobotoh, sesudah pertandingan Persib vs Persijap, menghadang kepulangan bus Persib dengan memblokade pintu keluar. Salah satu tokoh dari Bobotoh yaitu panglima Ayi Beutik (Viking Persib Club) dari tribun timur turun mengajak gerakan masa dari Bobotoh, dan kesudahannya Bobotoh semakin banyak dan mengepung area VIP Stadion Silliwangi. Bobotoh yang di pimpin Ayi Beutik mulai meneriakan yel yel `Risnandar Mundur!` dan hujatan lainnya, Ayi Beutik angkat bicara dan menuntut semoga pelatih Risnandar mundur sebagai jabatannya, manajer tim Persib Yosi Irianto dikala itu meminta perwakilan dari Bobotoh untuk memberikan aspirasinya, namun mereka tidak puas dan masih akan tetap   

disana sebelum pelatih dan asistennya di ganti. Namun kesudahannya Bobotoh menyerah tapi dengan catatan, jikalau perubahan tersebut tidak terjadi mereka akan menggelar demo besar besaran, dan hasilnya perubahan itu terjadi. Pelatih Risnandar mundur dari jabatannya dan hanya mewakili dua pertandingan saja. Pengantinya Arcaan Lurie pribadi menunjukkan kemenangan penting dikala Persib tandang ke Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Banyaknya Bobotoh yang tour ke Yogyakarta dikala itu menjadi salah satu tour yang paling heroik. Bukan karena rivalitas suporter kedua kesebelasan, namun ketika kota Yogyakarta begitu banyak Bobotoh (malam harinya jalanan malioboro di penuhi orang-orang berkaos Persib), yang memang begitu menanti kemenangan pertama. Teristimewa dari rangkaian kejadian itu, justru kekerabatan antara Ayi Beutik dan Risnandar yang tetap erat dan tetap hangat. Candaan-candaan terlontar setiap kali dua sobat dengan peran berbeda untuk Persib ini bertemu. 

Record (The Biggest Awaydays in GBK Stadium) 
Bobotoh pernah menciptakan rekor jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah sepak bola indonesia ketika memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada final Perserikatan 1985. Menurut dokumen majalah Tempo, kala itu sebanyak 150 ribu penonton hadir di SUGBK dan secara umum dikuasai diantaranya ialah pendukung Persib, bahkan pertandingan tersebut tercatat di AFC sebagai pertandingan amatir terbesar dan paling banyak di tonton di dunia.Pada Liga Indonesia pertama Bobotoh menciptakan rekor penonton terbesar sepanjang era sepak bola profesional indonesia, kejadian itu terjadi pada tahun 1995 dikala final Liga Indonesia Persib Bandung bertemu Petrokimia di SUGBK, total sekitar 120 ribu penonton hadir memenuhi stadion terbesar di Indonesia tersebut. 

Media
Bobotoh juga mempunyai stasiun radio dengan nama 96.4 Bobotoh FM yang di luncurkan 16 Juni 2011. Radio ini merupakan radio suporter pertama di Asia. Bobotoh FM dalam operasionalnya menggunakan tekhnologi Broadcasting terkini dan dapat di kanal di seluruh dunia melalui internet dan Dynamic Streaming di bobotohfm.com, Para pendengar Bobotoh FM di seluruh dunia dapat saling berinteraksi secara maksimal baik secara telepon, seluler, internet, bahkan off air Bobotoh FM merupakan partner dari Cafe Persib sebagai media komunikasi dengan Bobotoh. Nama Bobotoh FM di pilih karena memiliki nilai filosopi berbasis Local Spesific Contcent yang dapat di angkat secara global.

Song for Persib and Persib Athem
Kota Bandung terkenal paling kreatif di Indonesia, banyak musisi tokoh/artis yang lahir di Bandung, pada pertengahan tahun 80-an musisi asal Bandung menunjukkan karyanya sebuah penghormatan terhadap Persib. Mulai pada tahun 1985-86 musisi legendaris asal Bandung membawakan lagu `Kami Cinta Persib` karya Dion Hutabarat, lagu tersebut sangat populer dan selalu di putar awal dan jeda pertandingan di Stadion Silliwangi. Setelah itu muncul beberapa musisi lainnya, menyerupai Bimbo yang membawakan lagu Jayalah Persibku dan yang fenomenal ialah seniman besar Kang Ibing yang membawakan lagu Maung Bandung, dari lagu itulah Persib mempunyai julukan gres selain Pangeran Biru.Pada tahun 2002, Viking Persib sebuah organisasi dari Bobotoh membuat gerakan dengan membuat album kompilasi untuk Persib, beberapa band besar menyerupai Koil, Harapan Jaya turut menyumbangkanaryanya, sementara Pas Band juga menyumbangkan karyanya yang sebelumnya pernah di muat di album mereka sendiri, di album pertama ini cenderung banyak mengandalkan jenis musik keras dan mengkremasi semangat selerea anak muda dikala itu.Beberapa tahun kemudian Viking merilis kembali album Viking Compilation Jilid 2, dalam album ini banyak varian jenis musik yang beragam, seniman besarpun turut berperan menyerupai Mocca yang mewakili jenis musik anak muda dan seniman legendaris Sunda menyerupai Kang Ibing dan Doel Sumbang.Di luar album kompilasi Viking, masih banyak musisi lain yang membuat lagu wacana Persib, baik yang di sisipkan di album mereka atau yang di rilis secara single. Berikut  beberapa musisi/band yang membuat lagu wacana Persib :Kuburan Band - We Will Stay Behind You, Pas Band - Aing Pendukung Persib, Andi /Rif - Viva Persib, Seurius - Sihung Maung Bandung, Pascodex - Persib Juara 

Viking and Bonek Relationship
 Hubungan persahabatan antara Viking dan Bonek suporter Persebaya, di mulai pada tahun 2003. Ketika itu ada ikrar suporter bersatu dikala gelaran Play-off Liga Indonesia di Solo. Persib di perbolehkan bermain, tetapi dengan syarat harus ada ikrar suporter untuk bedsatu, ikrar tersebut di ikuti oleh Viking, Pasoepati, La Mania dan Brajamusti. Ketika itu Viking berjalan jalan di kota Solo, mereka di dampingi oleh Bonek, di dikala itu kedua kelompok suporter tersebut akrab, kejadian di pertandingan Persib melawan Perseden membuat kekerabatan Viking dan Bonek semakin erat, Viking yang di dampingi oleh Bonek dan suporter Perseden di bantu oleh Pasoepati.Dari situlah kekerabatan Viking dan Bonek selalu erat, ketik Bonek datang ke kota Bandung mereka selalu di jemput menunjukkan penginapan dan makan gratis, begitupun sebaliknya. Persahabatan tersebut bahkan di abadikan melalui lagu dengan jargon Viking Bonek Satu Hati. Ketika Persib bermain di Jawa Timur, Bonek selalu mendampingi dan turut mendukung dikala berada di stadion, sebaliknya jikalau Bonek datang ke Jawa Barat. Rasa senasib juga sama yang di alami kedua kelompok tersebut, mereka sering di jadikan materi Media sebagai headline utama gosip kerusuhan. 

Viking and Jakmania Rivalries
Perseteruan antara Bobotoh Persib dan Jackmania sudah berlangsung semenjak tahun 2000, sempurna disaat Liga Indonesia 6 berlangsung. Pada putaran pertama pertandingan, terdapat sekitar 6 buah bis suporter Persib datang ke Lebak Bulus yang masuk ke Tribun Timur. Saat itu bobotoh Persib yang bertandang terdiri dari beberapa komunitas, menyerupai : Balad Persib, Jurig, Stone Lovers, ABCD, Viking, dan lain-lain. Pada masa itu komunitas yang paling banyak anggotanya ialah Balad Persib. Meskipun situasi dikala itu terbilang cukup panas dan hampir terjadi bentrokan dengan Jackmania, namun kesudahannya mampu diredam. Bahkan antara bobotoh Persib dan Jackmania saling berjabat tangan.Usai pertandingan, rombongan bobotoh Persib didampingi Jackmania menuju bus sambil tolong-menolong menyanyikan lagu “Halo Halo Bandung”.Pembicaraan kedua perwakilan suporter berlangsung lancar lantaran salah seorang Pengurus Jackmania yang berjulukan Erwan rajin ke Bandung. Kebetulan Erwan punya usaha membuat kaos dan memesannya di Bandung. Hubungan Erwan dengan Ayi Beutik sangat dekat sekali. Bahkan kabarnya Erwan yang dikala itu masih membujang tertarik dengan adik perempuan Ayi Beutik. Oleh karena kedekatan keduanya itulah, maka Ayi sebagai Panglima Viking sempat erat dengan Jackmania. Pada dikala itu Jackmania bermaksud hadir ke Bandung ketika tejadi partai tandang antara Persib dan Persija, namun tanpa ada kordinasi dengan pihak Viking untuk mempersiapkan kehadiran tamu yang tak di undang tersebut, sedangkan Jackmania sudah membentuk kepanitiaan dan mengurus Sekretaris Umum dan Bendahara Umum sebelumnya, yang dikala itu dijabat oleh Faisal dan Danang. Mereka berdua bertugas membahas problem tiket sampai tribun Jackmania.Kabar tersebut ternyata gres terdengar oleh para Bobotoh, bhawa Jakmania akan hadir, setelah mendengar gosip tersebut secara mendadak, para bobotoh pribadi rapat dibawah pimpinan sang Panglima Viking, Ayi Beutik. Pada dikala itu para bobotoh mempertanyakan tindakan apa yang harus diambil oleh mereka ketika para Jackmania datang. Pada dikala itu Ayi Beutik mengatakan semoga para bobotoh memperingatkan Jackmania semoga jangan macam-macam (bikin ulah). Kalau bikin ulah, pukul saja. namun kata kata tersebut di salah artikan oleh Bobotoh yang lain.Kronologis menyerupai ini. Saat pelaksanaan, ternyata Jackmania yang datang cukup banyak. Dalam pembicaraan semula, jumlah Jackmania yang akan hadir sudah di tentukan, namun kenyataannya berubah menjadi lebih dari jumlah tersebut, tidak heran karena mendapat dana support atau gratis dari Sutiyoso. Tentu saja hal ini membuat panitia Jackmania yang belum berpengalaman mengkoordinasikan anggotanya untuk nonton tandang menjadi kewalahan. Akibatnya jam keberangkatan mereka pun sempat tertunda dan gres mampu berangkat ke Bandung jam 12 siang.Saat itu rombongan Jackmania terpecah menjadi 3 rombongan. Bis pertama berangkat terlebih dahulu karena mau ganti ban, lalu disusul rombongan kedua berjumlah 4 bis dan rombongan terakhir juga memakai beberapa bis tambahan. Panitia masih ragu apakah semua Jackmania akan mendapatkan tiket, karena sesuai dengan janji awal.Bis pertama datang lebih dulu di Stadion Siliwangi. Kedatangan Jackmania disambut baik oleh Viking dan pribadi mempersilahkan mereka masuk ke stadion. Padahal waktu itu mereka belum membawa tiket. Sementara itu diluar stadion bahkan di dalam, bobotoh persib yang hadir semakin banyak dan mendesak tertahan. Sebagian oknum bobotoh tidak suka dengan gaya mereka sembrono, mendatangi Jackmania dengan prilaku yang kurang simpatik. Mereka malah pribadi memukul anggota Jackmania sampai berdarah. Setelah kejadian tersebut, suasana kesudahannya menjadi kacau. Ayi sangat menyesalkan kejadian ini yang kesudahannya menyeret kedua suporter ke dalam perseteruan yang berkepanjangan.Melihat situasi yang kurang kondusif di dalam dan luar stadion, Viking meminta semoga rombongan Jackmania yang sudah terlanjur masuk ke dalam stadion untuk keluar dulu, sambil menunggu rombongan Jackmania lainnya. Mereka menuruti kemauan Viking. Namun di luar stadion suasana semakin tidak kondusif.Situasi di Stadion Siliwangi dikala itu semakin panas. Guna meredam situasi, rombongan Jakmania kembali diungsikan menjauh dari stadion. Perwakilan Viking berinisiatif mengajak rombongan pertama Jackmania tersebut semoga bergabung dengan rombongan lainnya yang lebih banyak jumlahnya, sambil meminta maaf terhadap kejadian tersebut. Namun mereka marah dan tidak mampu mendapatkan perlakuan bobotoh Persib terhadap rekan mereka. Bahkan untuk berjabat tangan pun mereka tidak mau menerimanya.Akibat kejadian pemukulan yang dilakukan oknum bobotoh Persib, Jackmania mengurungkan niatnya menonton pertandingan sabung tandang tim kesayangannya dan bermaksud kembali ke Jakarta. Saat rombongan mereka akan keluar Stadion Siliwangi, terjadi lagi serangan yang dilakukan sebagian oknum Bobotoh Persib yang berada di luar stadion. Keributan pun sempat terjadi yang menyulut api dendam yang berkepanjangan.Sejak kejadian tersebut mengakibatkan luka di kedua suporter terswbut terutama Jackmania, Mereka tampaknya merasa dendam terhadap perlakuan anggota Viking. Ketika rombongan bobotoh ke Jakarta untuk menonton pertandingan PSSI melawan Irak, giliran bobotoh yang dipukulin Jackmania. Perselisihan pun kesudahannya semakin tajam diantara kedua suporter.Puncak kejadian berikutnya ialah agresi balas dendam yang dilakukan Jackmania terhadap Viking. Kejadiannya bermula dikala ada program “Kuis Siapa Berani” di Stasiun TV Indosiar. Saat itu kedua kubu diundang untuk mengisi program tersebut. Pada dikala program berlangsung, bahwasanya berlangsung sukses dan tidak terjadi apa-apa. Kebetulan program tersebut dimenangkan oleh Viking.Entah bagaimana asal muasal, anggota Jackmania mendatangi anggota Viking mereka pribadi memukulinya, dan mengakibatkan keributan.Dalam waktu singkat banyak suporter Jackmania yang datang ke lokasi kejadian. Mereka bermaksud menyerang para bobotoh. Suasana semakin tidak terkendali yang membuat Polisi kesudahannya mengungsikan rombongan Viking.Apa yang sudah dilakukan pegawanegeri keamanan ternyata sia-sia. Ketika rombongan Viking bermaksud kembali ke Bandung, terjadilah penghadangan oleh Jackmania di pintu tol Kebun Jeruk. Perkelahian tidak seimbang tidak mampu terelakkan lagi, antara rombongan Viking yang sedikit dengan rombongan Jackmania yang berjumlah banyak. Tak ayal lagi Viking menjadi bulan-bulanan Jackmania.Sejak kejadian tersebut nama Jackmania tercoreng. Media menuding Jackmania tidak mendapatkan kekalahan mereka sehingga menyerang Viking. Masyarakat Bandung pun ramai-ramai ikut menghujat yang membuat perseteruan semakin kental. Kedua kubu semakin menanamkan kebencian terhadap lawannya kepada anggota gres komunitas mereka. Misalnya dengan membuat kaos dan lagu yang bersifat menghujat.


Sumber http://tribunbobotoh.blogspot.co.id